Jelang Pemilu 2019, PDIP Menjadi Partai Papan Atas 2019

Lembaga Indikator Politik Indonesia melalui survei pemilihan anggota legislatif menempatkan PDI Perjuangan pada urutan pertama. Partai yang berlambangkan sebuah banteng ini memperoleh persentase sebanyak 27,7%. Selanjutnya pada posisi kedua dipegang oleh partai Gerindra dengen persentase suara 11.4% sedangkan pada urutan ketiga terdapat Partai Golkar dengan memperoleh persentase 8,0%.

Kamis, 03 Mei 2018, Direktur Eksekutif Indikator Politik, Burhanuddin Muhtadi saat ditemui dikantornya, Cikini, Jakarta Pusat, mengatakan Ini adalah simulasi semi terbuka dari 15 partai yang kami pilih, dalam survei yang kami lakukan pada Maret 2018.

Kemudian pada urutan keempat dipegang oleh partai Demokrat 6,6%, partai PKB berada pada posisi kelima dengan persentase 5.8% dan partai Perindo memperoleh 4,6%. Perindo ini mungkin sering mengiklankan partainya di media mereka sendiri sampai bisa dikenal sehingga mampu mengalakan partai PKS dengan 4,0%, partai PPP dengan 3,5%, partai Nasdem dengan 2,7% dan PAN memperoleh 1.9%” lanjut Burhan.

Survei ini menggunakan 1.200 responden yang memiliki hal pilih dalam pemilu dan dilakukan secara acak dengan memakai metode Multistage Random Sampling. Wawancara dilakukan dengan tatap muka secara langsung serta dilakukan Quality Control 20% dari semua sampel yang dikumpulkan.

Survei dilakukan pada tanggal 25 Maret – 31 Maret 2018 lalu diakumulasi dengan data survei pada bulan Februari yang memiliki total responden sebanyak 2.020. Survei pada bulan Maret ini memiliki Margin Of Error sebesar 2,9% dengan tingkat kepercayaan sebanyak 95% sedangkan pada bulan Februari survei tersebut memiliki Margin Of Error sebesar 2,2% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Rustam Ibrahim Angkat Bicara Soal Kritikan Untuk Presiden

Rustam Ibrahim, Direktur LP3ES angkat biacara serta menyoroti orang orang yang selalu memberikan kritikan kepada Presiden. Hal tersebut diungkapkannya melalui akun sosial medianya (Twitter). Dirinya mengaku hal paling menyerdihkan yaitu mengairkan pandangan publik dengan jabatan yang mereka miliki.

Melalui akun medianya tersebut dia mengatakan sesaat diangkat menjadi penjabat mereka melakukan pembelaan tapi sesaat sudah tidak menjabat maka mereka akan ikut-ikutan memberikan kritikan terhadap orang nomor satu di Indonesia yaitu Presiden Joko Widodo.

Berikut cuitan dalam akun twitternya @RustamIbrahim, “Paling menyedihkan mengaitkan pandangan-pandangan kita dengan jabatan atau posisi yang kita pegang. Ketika diangkat menjadi pejabar membela Presiden, tidak lagi menjabat mengkiritik Presiden”.

Sebelumnya, Rustam juga menyindir Faisal Basri yang memberikan komentarnya mengenai kebijakan TKA Jokowi. Rustam mengatakan jika Fiasal Basri diangkat menjadi menteri atau menjabat sebagai pejabat, pasti akan berhenti mengkritik. Rustam kemudian membandingkannya dengan Rizal Ramli yang sudah tidak memberikan kritikan saat sudah diangkat menjadi Menko ESDM.

@RustamIbrahim: Coba diangkat jadi Menteri atau Jabatan tinggi yang lain, siapa tahu akan berhenti mengkritik Jokowi. Waktu Rizal Ramli diangkat menjadi Menko ESDM dia juga berhenti mengkritik Jokowi.

Tidak hanya itu, Rustam Ibrahim mengungkapkan jika nilai tukar rupiah menurun tidak hanya saat dierak Jokowi, tetapi di era SBY juga bahkan saat masih jamannya Soeharto. Menurutnya para pengkritik hanya mampu mengandalkan sebuah permainan kata. Dirinya meyebutkan mereka akan diam saat mereka ditawari sebuah data.